Dituding Lakukan Pemotongan Uang Titipan, Ini Tanggapan Lapas Kelas IIA Watampone

Kalapas Watampone Lukman Amin memberikan pengarahan/wejangan anggotanya

RAKYATSATU.COM, BONE – Di penghujung tahun 2020 ini, Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Watampone mengalami hal tidak mengenakkan. Pasalnya, ia dituding melakukan pemotongan uang titipan bagi Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) oleh oknum pembesuk Sumarni dan Harun yang mengaku membesuk tanggal 23 Desember 2020 di Lapas Watampone.

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Watampone, Lukman Amin, saat ditemui di ruang kerjanya, Jl Yoes Sudarso Watampone, Rabu (30/12/2020), merasa geram dengan adanya tudingan tersebut. Bahkan ia mengharapkan kerjasamanya Sumarni dan Harun untuk menyebutkan nama oknum pegawai Lapas Kelas IIA Watampone yang pernah dititipi uang.

“Saya harap kerjasamanya Sumarni dan Harun untuk menyebut nama dan kalau perlu mari kita bertemu sambil menyodorkan nama oknum pegawai Lapas Kelas IIA Watampone atau tunjukkan saya orangnya. Saya tidak akan segan-segan memberikan sanksi apabila ada pegawai saya di Lapas Kelas IIA Watampone yang terbukti melakukan pemotongan uang titipan,” tegas Lukman Amin.

Humas Lapas Watampone, Azhar, menjelaskan pula bahwa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Watampone tidak pernah sama sekali menerapkan aturan pemotongan uang titipan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Bahkan katanya, di buku besuk tidak pernah terdaftar nama Sumarni dan Harun.

Lanjutnya, seluruh pelayanan yang ada pada Lapas Kelas IIA Watampone semua diberikan secara gratis baik pelayanan itu kepada Warga Binaan Pemasyarakatan itu sendiri, maupun kepada masyarakat ataupun keluarga dari Warga Binaan Pemasyarakatan yang menggunakan layanan Lapas Watampone.

Azhar pun menjelaskan, terkait adanya pemberitaan pada salah satu situs berita online mengenai dugaan adanya pemotongan uang titipan sebesar 20% yang terjadi di Lapas Watampone perlu kami klarifikasi mengenai hal tersebut, di Lapas Kelas IIA Watampone sendiri memafasilitasi pelayanan penitipan uang bagi Warga Binaan Pemasyarakatan ( WBP) dengan menerapkan sistem rekening virtual atau Virtual Account dengan bekerjasama pihak Bank BNI, dimana setiap orang WBP atau Tahanan yang menghuni Lapas Watampone, akan dibuatkan rekening virtual tersebut semenjak mulai menempati Lapas Watampone.

Rekening virtual berfungsi sebagai wadah penyimpanan uang bagi WBP secara resmi yang berlaku di Lapas Watampone, tidak hanya itu selain bertujuan untuk mencegah terjadinya peredaran uang di dalam Lapas, dengan sistem tersebut memberikan kemudahan kepada keluarga WBP yang ada di luar untuk mentransferkan uang kepada keluarga mereka yang ada di dalam Lapas, dengan jumlah uang virtual sebesar Rp.1.000.000,00 ( Satu Juta Rupiah), merujuk dari Permenkumham Nomor 29 Tahun 2017.

Adapun biaya top up saldo, Pengiriman atau transfer dikenakan biaya administrasi Bank sebesar Rp. 5.000,- ( Lima Ribu Rupiah) yang secara otomatis akan dipotong oleh admin Bank BNI.

Jadi setiap WBP atau tahanan yang mendapatkan kiriman uang dari pihak keluarga mereka dari luar baik itu secara langsung ataupun transfer akan dimasukkan kedalam rekening virtual yang mereka miliki, dan semuanya itu tercatat dan pengelolaannya dilakukan secara transparan oleh petugas Lapas Watampone.

Dari isi pemberitaan yang diterima menanggapi hal tersebut pihak Lapas Watampone langsung melakukan cross cek data yang terekam pada aplikasi Kunjungan SDP, didapati pada tanggal 22 dan 23 Desember 2020 kedua nama yang termuat dalam pemberitaan tersebut tidak pernah datang ke Lapas Watampone, untuk menitipkan makanan dan uang.

“Namun pihak Lapas Watampone tetap akan mengadakan evaluasi dan juga perbaikan serta penyempurnaan dari sistem pelayanan untuk mencegah terjadinya adanya celah yang memungkinkan terjadinya penyelewengan atau praktek pungli pada Lapas Watampone, termasuk jikalaupun ada oknum pegawai yang terlibat, maka pasti akan dijatuhi sanksi yang berat dari institusi,” pungkas Azhar.

Sementara itu, Sumarni salah satu pembesuk Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Watampone, menceritakan, setiap menitipkan uang untuk keluarganya yang sedang ditahan selalu mendapat pemotongan hingga 20 persen.

“Kemarin (22/12/2020) saya menitipkan uang di penjaga yang sebanyak 100 ribu, yang sampai hanya 75 ribu,” kata Sumarni ke awak media, Kamis (24/12/2020) lalu.

Sumarni mengaku baru mengetahui pemotongan itu, setelah kembali membesuk keluarganya, “Itu baru saya ketahui setelah berbicara dengan keluarga yang ditahan, katanya uang yang dititipkan hanya Rp 76.000 karena ada potongan di penjaga,” tambahnya.

Hal sama juga diakui Harun, saat menjenguk keluarganya pada 23 Desember kemarin dia, mendapati adanya pemotongan yang diduga dilakukan oleh pegawai lapas. “Kemarin saya titip uang 50 ribu ke penjaga Lapas dan yang sampai hanya 38 ribu, katanya uangnya dikenai potongan sebanyak 20%.” ungkapnya.