[OPINI] Lukaku Memeluk Luka

Catatan Pinggir : Bahtiar Parenrengi

 

RAKYATSATU.COM, BONE – Seperempat jam sebelum pertandingan bola usai, saya baru terjaga dari tidur. Nyenyak semalaman. Pun tanpa mimpi.

 

Papan skor terlihat jelas. Satu kosong untuk Swedia. Itu artinya, kesebelasan Protugal tertinggal satu kosong. Sesekali pendukung Portugal bersorak. Dan sesekali pula nampak kesedihan saat tersorot kamera.

 

Kedua kesebelasan terus beradu strategi.

Beradu kecerdikan mengolah si kulit bundar. Nampak kesebelasan Portugal berada dibawah tekanan. Mental pemain seakan menurun drastis ketika merasakan menit-menit terakhir permainan akan usai.

 

Ronaldo seakan terkunci. Tak bisa bebas mengolah bola untuk menjebol gawang lawan. Dan akhirnya, wasit meniupkan peluit terakhir pertanda permainan berakhir. Satu kosong. Dan Kesebelasan Portugal pun tumbang. Kesedihan terpancar. Haru.

 

 

***

Bola memang bundar. Menggelinding dan melayang saat disepak ataupun disundul. Butuh kekuatan dan keahlian saat memainkan.

 

Saat pertandingan, tentu menjadi menarik buat ditonton. Karena ada keindahan bermain yang terlihat. Tentu bukan adu fisik yang berakhir adu jotos.

Faktor keberuntungan menjadi sebuah penentu kemenangan.

 

Seperti juara dunia Prancis tumbang di tangan Swiss. Keduanya mengeluarkan seluruh kekuatan dan strategi bermain hingga salah satunya harus tumbang lewat adu penalti setelah selama 120 menit kedudukan tetap 3-3 dalam laga 16 besar Euro 2020.

 

Prancis kurang beruntung. Saat adu penalti, Kylian Mbappe tidak berhasil menjebol gawang Swiss. Mbappe gagal melaksanakan tugasnya sebagai eksekutor penalti. Hingga harus meninggalkan lapangan permainan dengan penuh kesedihan. Skor 5-4 menjadi penentu kemenangan Swiss.

 

 

 ***

Itulah permainan bola. Selalu ada keajaiban. Selalu ada cedera dan terluka. Luka hati, pun luka fisik.

 

Menang bergembira, kalah bersedih. Dan itulah pemandangan bola didua subuh ini. Kylian Mbappe meninggalkan lapangan dengan penuh kesedihan. Jutaan pasang mata memelototinya saat gagal menjebol gawang Swiss.

 

Mungkin ada umpatan, tapi tak terdengar karena tenggelam oleh suara sorak kemenangan dari pemain dan pendukung Swiss. Kegagalan menjebol gawang bisa menjadi trauma berat bagi Kylian Mbappe.

 

Pemandangan yang sama pun terlihat pada pada subuh sebelumnya. Portugal gagal memenangkan pertandingan melawan Timnas Belgia.

 

Timnas Belgia memastikan diri ke babak perempatfinal EURO 2021. Romelu Lukaku terlihat riang gembira. Begitupun para pelatih, pemain dan seluruh pendukungnya merayakan kemenangan itu.

 

Bagi penggemar bola di tanah air, sangat kurang mengunggulkan Timnas Belgia. Mereka sangat yakin, pertandingan akan dimenangkan oleh Portugal. Mereka yakin karena ada Sang Mega Bintang, Cristiano Ronaldo.

 

Kekuatan pemain Belgia terdongkrak. Semangat bermain semakin menguat, karena bertekad menaklukan Portugal yang m memiliki nama besar. Memiliki pemain bintang. Ada kekuatan lebih dari Timnas Belgia, dan itu dibuktikan. Gol tunggal Thorgan Hazard menjadi penentu kemenangan Timnas Belgia.

 

Tim Cristiano Ronaldo terpaksa harus menelan pil pahit. Harus legowo. Namun dibalik keriuhan diakhir pertandingan, ada momen yang menyita perhatian. Menjadi penyejuk jiwa. Ada pelukan yang menyentak bathin. Striker Timnas Belgia Romelu Lukaku memeluk Kapten Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo.

 

Pelukan itu menyita perhatian dan menyita perhatian warga net. Media sosial dipenuhi berbagai komentar. Momentum itu bisa mengobati luka kekalahan. Aksi Lukaku menjadi amzal. Sebuah contoh. Sesuatu yang bisa menjadi pembelajaran bahwa, dalam pertandingan, dalam lomba, dalam perebutan sesuatu sejatinya berakhir indah. Tak ada kebencian. Tak ada duka. Tak sakit hati dan luka. Lukaku telah memeluk luka.