Tepis Harga Yang Beredar, Tim Pengembang GeNose : Biaya Tes Berkisar Rp 60 ribuan

Mesin GeNose/ Dok UGM

RAKYATSATU.COM, YOGYAKARTA – Ketua tim pengembang GeNose, alat pendeteksi Covid-19 besutan para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Kuwat Triyana meluruskan informasi soal biaya tes dengan alat yang kinerjanya berbasis sampel embusan napas itu.

Sebelumnya beredar informasi biaya tes dengan alat GeNose itu hanya sekitar Rp 15-25 ribu dan hasil tes juga sangat cepat, yakni sekitar 2 menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya.

“Estimasi saya biaya tes dengan GeNose itu mungkin sekitar Rp 60 ribuan,” ujar Kuwat kepada Tempo, Ahad, 27 Desember 2020. Harga itu, menurutnya, hasil breakdown terakhir secara rinci kebutuhan tes di setiap pengujian dengan alat itu.

Dari informasi yang diterima Kuwat, Rp 25 ribu itu hanya biaya bersih pengetesan. Padahal setiap pengetesan tentu membutuhkan kantong napas dengan alat penguncinya.

“Setiap 100 kali pengujian juga harus diganti alat penyaringnya atau heva filter yang harganya berkisar 15 ribu,” kata Kuwat.

Perkiraan Kuwat di lapangan, saat uji tes itu mulai diproduksi dan diedarkan massal menggandeng perusahaan yang bekerja sama, harga yang dihitung tak sekedar dari faktor penyediaan alat-alat utama saja. Akan ada ongkos seperti pengelolaan limbah, operator alat itu, hingga pengamanan penggunaan alat itu yang ia taksir Rp 25 ribu.

“Untuk depresiasi alat sendiri sekali uji, kami taksir Rp 600 sekali tes. Jadi kalau kita bisa mengobati dengan efektif biaya itu tentu sangat murah,” ujarnya.

GeNose mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan pada Kamis, 24 Desember 2020. Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mendorong Pemerintah DIY dapat memberi atensi pada temuan UGM itu dengan memanfaatkan temuan mereka.

“Alat ini terbilang murah dan bisa digunakan dalam proses tracing, testing dan treatment di Yogyakarta yang kasusnya terus meninggi,” ujarnya.

Terkait kebutuhan dana, ujar Huda, Pemda DIY sebenarnya sangat siap karena memiliki dana tak terduga jumlahnya sekitar Rp 66,9 miliar. “Kalau anggaran sama sekali tidak ada kendala kalau mau mendukung pelacakan cepat Covid melalui tes GeNose itu,” kata dia.

Kuwat mengatakan setelah izin edar diperoleh dari Kementerian Kesehatan maka tim akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN dan Kemenristek/BRIN untuk didistribusikan.

Mereka berharap agar dengan jumlah GeNose C19 yang masih terbatas ini dapat memberikan dampak maksimal.

Dengan 100 unit batch pertama yang akan dilepas, pihaknya berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau atau totalnya 12 ribu orang sehari.

“Angka 120 tes per alat itu dari estimasi bahwa setiap tes membutuhkan 3 menit termasuk pengambilan napas, sehingga satu jam dapat mengetes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama 6 jam,” kata dia.

Kuwat juga menegaskan setelah mendapatkan izin edar GeNose C19 akan segera diproduksi massal. Tim berharap bila ada 1.000 unit kelak maka akan mampu mengetes sebanyak 120 ribu orang sehari, dan bila ada 10 ribu unit sesuai target di akhir bulan Februari 2021, maka Indonesia akan menunjukkan jumlah tes Covid-19 per hari terbanyak di dunia, yakni 1,2 juta orang per hari.

Sumber : Tempo.co