Nama Haji Momo Kembali Disebut di Sidang Lanjutan Kasus Nurdin Abdullah

Sidang Nurdin Abdullah dengan saksi Yusuf Tyos dan Meikawati. ©2021 Merdeka.com/Ihwan Fajar/ Istimewa

RAKYATSATU.COM, MAKASSAR – Sidang lanjutan Gubernur Sulsel non aktif, Nurdin Abdullah memasuki sidang ke-10.

Pada Sidang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan tiga saksi dari kontraktor. Ketiga Kontraktor tersebut, yakni AM Parakkassi Abidin, John Theodore, dan Andi Kemal.

Selain kontraktor, saksi lain juga dihadirkan di sidang Pengadilan Tipikor Makassar, Fajar, Sri Ulandari, Henny Diah Taurustiani masing-masing mengaku tak pernah berinteraksi dengan NA.

Ketiga Kontraktor dalam sidang itu juga menyangkal pernah berinteraksi dengan Nurdin Abdullah, baik secara langsung maupun tidak dalam proses transaksi suap proyek. Melainkan, berinteraksi dengan Sari Pudjiastuti (SP) mantan Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel, Edy Rahmat (ER) adalah mantan Sekretaris Dinas PUTR Sulsel, dan Syamsul Bahri (SB) Ajudan Gubernur Sulsel Non Aktif, Nurdin Abdullah.

Dalam sidang itu, Penasihat Hukum (PH) Nurdin Abdullah, Arman Hanis bertanya ke para saksi. Apakah Nurdin Abdullah pernah meminta dan menerima fee proyek? “Tidak pernah,” kata John Theodore.

Jawaban serupa juga dilontarkan oleh Andi Kemal dan AM Parakkassi Abidin.

Dikutip dari Fajar.co.id, keterangan AM Parakkasi Abidin (PA) kepada JPU KPK, bahwa selaku kontraktor, pernah menyerahkan uang sebesar Rp 1 miliar kepada Sari Pudjiastuti, yang saat itu masih menjabat Kepala Biro Pengadaan dan Jasa Pemprov Sulsel.

Uang itu kata dia, berdasarkan pesanan Haji Momo, mitranya selaku kontraktor, untuk disiapkan dan selanjutnya diserahkan kepada Sari. Uang pecahan Rp 100 ribu itu lalu ia packing dalam kardus air mineral. Namun baru ia serahkan empat hari kemudian kepada Sari.

“Katanya uang itu sudah mau dipakai dan Ibu Sari datang ke Home Stay saya. Uang itu lalu saya masukkan ke bagasi belakang mobil Sari. Tapi setelah itu, saya tidak berhubungan lagi dengan Sari. Uang itu untuk apa, saya juga tidak tahu, karena saya hanya diperintahkan Haji Momo saja,” terangnya kepada JPU KPK.

Selanjutnya, uang tersebut langsung dibawa Sari ke rumah keponakannya, Sri Ulan, di perumahan Angingmammiri Hertasning. Dia diantar Fajar, sopirnya yang juga ikut bersaksi dalam sidang siang tadi.

Selain Sari, Parakassi juga mengaku pernah menyerahkan uang sebesar 200.000 dollar Singapura kepada Syamsul Bahri, ajudan NA, tepatnya sekitar Januari 2021. Permintaan tersebut, juga berdasarkan pesanan Haji Momo. “Saya dan Haji Momo yang antarkan uang itu ke rumah Syamsul di Jln Faisal. Saya yang serahkan langsung. Namun untuk kepentingan apa uang itu, saya juga tidak tahu,” jelasnya.

Adapun saksi lainnya, Andi Kemal, kontraktor proyek jalan di Bua-Rantepao pada tahun 2020, mengaku pernah dimintai uang oleh Edy Rahmat, kala itu menjabat Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat PUPR Sulsel.

“Saya pernah dimintai Rp200 juta oleh Edy Rahmat sekitar Januari atau Februari 2021. Tapi uang tidak cukup, saya baru kasi Rp 50 juta dan transfer ke rekening atas nama Mega, PNS di PUPR yang sering ditemani Pak Edy,” katanya.

Uang Kemal juga pernah mengalir ke Syamsul Bahri sebesar Rp 20 juta dan Rp 40 juta kepada Sari. “Kalo Syamsul katanya untuk biaya pendidikannya. Itu saya kasi cash di rumahnya. Sedangkan Bu Sari hanya bilang untuk anak-anak. Mintanya Rp 50 juta, tapi saya hanya sanggupi Rp 40 juta saja. Permintaan itu setelah proyek saya selesai,” lontarnya kepada JPU KPK.

Saksi lainnya, John Theodore, juga kontraktor hanya mengaku mengenal NA untuk urusan penjualan marmer dan sewa alat berat bagi pembangunan masjid di Pucak Maros. “Saya sempat tawarkan marmer dengan harga khusus kepada NA. Tapi Na tidak jadi beli. Kalau alat berat itu biaya sewanya Rp100 juta, tapi baru dibayar Rp50 juta,” terangnya.