[OPINI] Masjid Nol Rupiah

Catatan Pinggir : Bahtiar Parenrengi

RAKYATSATU.COM, BONE – Dalam percakapan di group WhatsApp, muncul beberapa cerita tentang masjid. Group yang digagas sejumlah sahabat kampus, memang selalu menampilkan percakapan santai, santun dan intelek.

Masjid, menjadi percakapan diawal puasa tahun ini. Selain mengirimkan narasi yang berbobot ilmiah, juga mengirimkan foto masjid yang menyejukkan mata.

Satu hal yang menarik, ketika seorang sahabat mengirimkan sebuah foto dan keterangan foto yang singkat. Masjid Jogokariyan.

Keberadaan masjid ini banyak menarik perhatian. Berawal dari sebuah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus berusaha membangun Ummat dan Mensejahterakan Masyarakat.

Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa. Arab, Indonesia, dan Jawa. Ini adalah wujud dari semangat kami, untuk menjadi Muslim yang salih seutuhnya tanpa kehilangan akar budaya.

***
Masjid adalah rumah tempat ibadah bagi umat Islam atau Muslim. Masjid berarti tempat sujud. Kita di Indonesia, apalagi di kampung halaman seperti Bone, pengertian Masjid bisa juga berkonotasi mushala, langgar atau surau.

Namun Masjid menurut Emha Ainun Najib, Masjid itu dua macamnya yaitu Satu ruh, lainnya badan. Satu di atas tanah berdiri, lainnya bersemayam di hati.

Tak boleh hilang salah satunya. Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu. Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu. Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu.

Mungkin dalam konteks inilah, Masjid
Jogokariyan menjadi sebuah masjid yang mendunia. Walau berada disebuah perkampungan, Masjid ini menyita perhatian.

Berawal dari sepetak tanah wakaf, masjid ini berdiri. Pembangunannya bertahap. Awalnya masjid ini hanya terdiri dari sebuah bangunan inti saja. Baru kemudian berkembang, setelah tahun 2006, pengurus masjid mendirikan Islamic Center di sisi timur bangunan utama.

Di Islamic Center Masjid Jogokariyan inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan. Ada 28 divisi yang bekerja. Di antaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat.

***
Masjid adalah rumah Tuhan. Siapapun membangun atau menjaganya niscaya mendapatkan balasan amal yang tak sedikit.
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Karena Surga balasannya, maka tak sedikit kaum muslim menyumbangkan sebagian hartanya. Tak sedikit diantara mereka mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid, mushola atau langgar.

Namun demikian, tak sedikit pula ada masjid, mushola atau langgar yang terbengkalai pembangunannya. Tak sedikit pula ada masjid pengurusnya terbelah. Pengurusnya saling curiga, pun tak bertegur sapa.

Dinamika kepengurusan selalu terjadi. Itulah dinamika berbeda pendapat. Berbeda cara pandang dan berbeda cara memanfaatkan isi kotak amal.

Isi kotak amal terkadang menjadi pemicu perbedaan pendapat. Terkadang menjadi ajang tanding antara masjid. Saling tanding saldo dalam pengumuman saldo mingguan atau bulanan. Padahal tak ada salahnya saldo masjid menjadi nol rupiah.

Isi kotak amal bisa saja dipakai beramal. Bisa dipakai membantu warga miskin yang lagi tertimpa musibah. Tak ada salahnya dijadikan dana stimulan bagi remaja masjid ataupun jamaah agar perekonomiannya bangkit. Pun ada baiknya bangun fasilitas toilet yang memadai, hingga warga yang kepepet buang hajat tidak kecewa akibat pintunya terkunci.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan, sepanjang kebaikan. Masjid menjadi pusat aktivitas. Bukan dijauhi oleh warga. Masjid seharusnya menjelma menjadi rumah Tuhan, yang menampakkan Rahman-rahim. Menampakkan kedamaian dengan nuansa surgawi. Semoga.