[OPINI Fashar dan Obat Kuat

Bahtiar Parenrengi

 Catatan Pinggir : Bahtiar Parenrengi

Hanyalah obrolan ringan. Obrolan campur-campur. Entah berlebel gado-gado ataukah nasi campur. Terasa enak dan perlu. Karena ibarat kehidupan, dinamika keberagaman menjadi pelengkap hidup.

Memang menjadi obrolan ringan ketika sampah menjadi perbincangan. Menjadi ringan karena dijadikan ringan. Bukan jadi sesuatu yang amat penting dalam kehidupan.

Menjadi ringan karena kita terkadang abai dalam hal itu. Menjadi ringan, seperti ringannya tangan kita membuang sampah disembarang tempat. Ringan karena kita begitu leluasa membuang puntung rokok dan pembungkusnya dimana saja.

Menjadi ringan, karena kita terkadang mengomeli petugas sampah saat telat mengangkutnya. Ringan karena biasa seenak perut menyoroti petugas retribusi sampah yang nongol dirumah kita.

Dan obrolan ringan inilah yang menjadi penghalang untuk mewujudkan daerah kita menjadi bersih. Penghalang menjadi daerah yang bisa mendapatkan Penghargaan Adipura.

***
Obrolan beberapa sahabat makin seru, saat membicarakan obat kuat. Rasa pahit terasa hilang akibat keseruan memaknai khasiat obat.

Terkadang berdebat dengan durasi waktu yang cukup lama. Seolah menjadi pakar, yang menjadi nara sumber disebuah seminar.

Itulah khasiat obat kuat. Selalu ramai dibicarakan. Selalu menjadi trending topik. Karena obat kuat, konon menjadi pemicu adrenalin. Dan cerita itu semakin menarik ketika Andi Fahsar M Padjalangi ikut nimbrung.

Suara serak Puang Baso (sapaan akrab A. Fahsar M Padjalangi), mengomentari cerita beberapa sahabat disebuah ruangan Kantor Partai Golkar. Obat kuat hanyalah cerita penyemangat. Hanyalah menjadi cerita imajinasi ketika lelaki sudah berumur.

Tawa lepas sejumlah sahabat pun pecah, hingga sejumlah pewarta yang agak jauh dari tempat kami pun sempat terpancing. Entah apa dalam pikirannya.

***
Ditiap pertemuan dengan Andi Fahsar, saya selalu merekam pembicaraan yang bisa menginsfirasi. Selalu saja ada pesan-pesan yang sejuk. Pesan yang membuat kita bisa berpikir jernih.

Sebagai sahabatnya, tentu selalu meluangkan waktu untuk bertemu. Entah untuk menikmati kopi ataukah hanya sekedar silaturrahmi. Karena pada prinsipnya, silaturrahmi bisa memperpanjang umur. Bisa melanggengkan persahabatan. Bisa berdiskusi pun bisa berbagi ilmu.

Dan untuk beberapa kalinya, Andi Fahsar yang lahir di Makassar, 21 Juni 1963 tersebut, selalu menitip pesan leluhur, Sipakatau. Sipakatau berarti saling memanusiakan, sipakainge berarti saling mengingatkan agar setiap individu terhindar dari perbuatan menyimpang, dan sipakalebbi berarti saling mengahargai serta saling memuji satu sama lain.

Olehnya, sikap kritis seseorang tidak bisa dibelenggu.
Ruang demokrasi harus terbuka luas, karena perbedaan pendapat adalah Rahmat. Perbedaan adalah sebuah kebinekaan untuk bersatu.

Sesungguhnya, Kritik adalah obat, pesan Andi Fahsar. Obat yang bisa menguatkan mental. Menguatkan bathin. Dan menguatkan pikiran kita. Kritik yang konstruktif adalah kekuatan cinta.