Milenial di Maros Diminta Terjun ke Sektor Pertanian

Mentan RI, Syahrul Yasin Limpo bersama Bupati Maros, Chaidir Syam saat panen raya

RAKYATSATU.COM, MAROS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros saat ini tengah mendorong keterlibatan kaum milenial di sektor pertanian. Dari data Dinas Pertanian, Maros memiliki 1.036 orang petani muda dan 646 orang diantaranya telah diassement untuk ikut dalam program Youth Enterpreneurship And Employmenr Support Service (Yess) yang dicanangkan Kementrian Pertanian 2020.

Bupati Maros, Chaidir Syam mengatakan, dari 15 Kabupaten di Indonesia, Maros menjadi salah satunya yang ikut dalam program untuk mencetak petani dan wirausaha muda di bidang pertanian mulai dari hulu sampai hilir. Melihat potensi komoditas pertanian yang cukup besar yang dimiliki oleh kabupaten Maros, diharapkan dapat melahirkan petani – petani milenial yang sukses.

“Program dari Kementan ini tentunya akan kita maksimalkan dengan baik untuk mencetak generasi milenial yang tangguh di bidang pertanian dan mendorong penggunaan tekhnologi pada sektor itu. Kita berharap, sektor pertanian kita akan terus maju di tangan para anak muda,” kata Chaidir, Minggu (21/03/2021).

Sehari sebelumnya, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo berkunjung ke lokasi panen raya di Desa Jene Taesa, Kecamatan Simbang. Pada kesempatan itu Chaidir mengaku sangat berterima kasih kepada Kementan atas bantuan yang telah diberikan kepada petani di Maros selama ini.

Mentan RI, Syahrul Yasin Limpo bersama Bupati Maros, Chaidir Syam saat panen raya

“Alhamdulillah kemarin kita didatangi oleh pak Mentan. Saya laporkan banyak hal ke beliau termasuk support kami dalam mendorong pemuda kita ke sektor pertanian. Pak Mentan sangat merespon baik upaya itu,” lanjutnya.

Saat ini, Kata Chaidir, Maros masih menjadi salah satu sentra produksi pangan di Sulawesi Selatan, khususnya padi. Potensi luas lahan baku sawah Maros mencapai 26,205 hektare dan padi ladang seluas 2.053 hektare harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Dari sisi produktifitas, Chaidir mengaku, target perhekatare belum maksimal. Pasalnya, dari data Dinas Pertanian di tahun 2020 lalu, produksi gabah kering panen hanya 308.438 ton. Jika dirata-ratakan, produktifitas gabah perhekatarenya hanya sekitar 6 ton, atau jauh dari target Puslitbangtan dan Balitkabi yang mencapai 9,3 ton perhekatere.

“Yah meski belum mencapai target itu, berdasarkan data statistik, antara kebutuhan beras dengan hasil produksi kita itu masih sangat jauh. Kita surplus sekitar 113,496 ton atau sekitar 73 persen dari total konsumsi kita yang hanya 44,402 ton tahun 2020. Total produksi beras kita itu 157.898 ton,” terangnya.

Saat gelaran panen raya, Mentan, Syahrul Yasin Limpo juga menyaksikan penandatanganan kerjasama penyerapan gabah yang dilakukan antara Bulog dan Komando Strategi Penggilingan (Kostraling). Selain itu, Mentan juga menyerahkan bantuan sarana dan prasarana produksi pertanian 2021 senilai kurang lebih 2,4 miliar.

“Sekarang kalau sudah panen, biasnya selalu ada persolan di harga. Tapi Alhamdulillah di Maros tidak. Kenapa? karena Bulognya bergerak, petaninya bergerak dan yang lain juga bergerak, maka itu harganya bagus,” ujar Syahrul.

Mentan berharap, Kabupaten Maros menjadi lokomotif produksi padi terbaik yang berasal dari Sulawesi Selatan. Maros diharpakan menjadi kabupaten yang berhasil mengenyangkan perut semua orang dengan produksi pangan yang melimpah.

“Kan sudah jelas bahwa perintah tuhan saja mengatakan seorang pemimpin dititipkan agar tidak ada rakyatnya yang kelaparan. Karena itu pertanian menjadi solusi, sebab pertanian tidak mengenal virus dan krisis akibat pandemi Covid 19. Dan yang penting perut 270 juta jiwa terisi dengan baik,” pungkasnya.