Home / Daerah

Minggu, 19 September 2021 - 13:46 WIB

Dua Peserta Diksar yang Nyasar Ditemukan Tim, Balai : Mereka Tidak Kantongi Izin

RAKYATSATU.COM, MAROS – Dua mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup, Muh Danil Gupran dan Muh Sulfikar, melakukan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diksar) di Padang Loang, Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa yang dilaporkan hilang, Sabtu (18/9/2021) sekitar pukul 20.11 wita berhasil ditemukan oleh warga.

Diketahui, dua mahasiswa ini hilang selama 10 jam di dalam hutan, lokasi Pendidikan dan Pelatihan Dasar.

Kepala Resor Mallawa Balai Taman Nasioanal Bantimurung, Bulusaraung, Aswadi dihubungi media mengatakan, 20 mahasiswa UNM yang melakukan Pendidikan dan Pelatihan Dasar di hutan Padang Loang sama sekali tidak mengantongi izin dari petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

“Kegiatan Diksar mahasiswa tersebut belum ada izin untuk melalukan kegiatan di padang Loang,” ujar Aswadi.

Dikatakan Aswadi, pelaksana kegiatan Diksar sebelumnya meminta surat ijin oprasional kegiatan di hutan padang Loang dengan cara menelpon. “Ijin baru kami bisa keluarkan jika ada rekomendasi dari pemerintah setempat, seperti kepala Desa, Camat, Kapolsek dan Satgas Covid 19 Maros,” katanya.

“Dari empat syarat yang kami minta sama sekali tidak ada.” sambungnya.

Kedati tidak melengkapi perizinan, para mahasiswa tersebut tetap laksanakan kegiatan Diksar di hutan Padang Loang. “Saya kira kegiatan Diksar tidak jadi karena empat syarat yang kami minta tidak ada sampai hari ini,” ujar Aswadi.

Ternyata kata Aswadi, kabar hilangnya dua peserta Diksar di dalam hutan baru diektahui setelah mendapatkan laporan. “Ini menjadi pelajaran adik-adik mahasiswa untuk tidak melakukan kegiatan sebelum ada izin dari pemerintah setempat,” jelas Aswadi.

Kapolsek Mallawa Iptu Makmur yang dihubungi wartawan mengatakan, mahasiswa UNM tersebut sebelumnya datang ke Polsek Mallawa untuk meminta ijin rekomendasi kegiatan Diksar di hutan Pandang Loang.

Namun, pihaknya tidak memberikan izin dengan pertimbangan resiko yang lebih banyak jika memaksakan berkegiatan di hutan Padang Loang. “Saya dari awal tidak keluarkan izin rekomendasi karena pertimbagan lebih banyak resikonya dari pada manfaatnya,” ujar Kapolsek.

Dikatakan Kapolsek kabar hilangnya dua mahasiswa UNM yang melakukan diksar di hutan Padang Loang pihanya terima setelah Kepala Desa Bentenge meneruskan informasi ada dua orang mahasswa nyasar ke hutan.

“Mahasiswa UNM yang kami tolak berikan rekomendasi ternyata berkegiatan tanpa ijin,” sesal Kapolsek.

Padahal kata Kapolsek perwakilan mahasiswa yang datang ke Polsek sudah disampaikan agar dibatalkan Diksar di areal hutan Padang Loang dengan pertimbangan areal hutan sangat angker ada berisiko tinggi. Hal ini kami tau dari laporan warga setempat tentang kondisi hutan tersebut. Rupanya mahasiswa tersebut tetap memaksakan diri berkegiatan di arael yang berbahaya.

“Ini menjadi pelajaran adik-adik mahasiswa jangan melakukan kegiatan jika tidak ada izin dari pemerintah setempat karena akan menimbulkan resiko yang sangat fatal.” Tegas Kapolsek.

Diketahui, dua mahasswa yangdilaporkan hilang berhasil ditemukan oleh Polsek ersama masyarakat Bentenge melakukan Pencaria dan Penyisiran kedalam hutan sampai jalan menuju ke Desa Patanyamang. Mereka berhasil ditemukan pada pagi Minggu (19/9/2021) sekitar pukul 10.00 wita. Keduanya dilakukan evakusi keluar hutan untuk dibawa ke Balai Desa lalu ke Polsek Mallawa untuk dimintai keteranganya.

Share :

Baca Juga

Daerah

PDRB Sektor Konstruksi di Sinjai Melonjak Drastis

Daerah

TMMD Maros Resmi Dibuka, Ini Harapan Bupati Maros

Daerah

Bupati Soppeng Terima Kunjugan Tim SPEAK Indonesia

Daerah

Hewan Kurban Disebelih di Sinjai Capai 729 Ekor

Daerah

Pengurus Persatuan Renang Seluruh Indonesia Maros Berganti

Daerah

Jelang HUT TNI Ke 76, Danrem 141/Tp Sulsel Laksanakan Ziarah Nasional

Daerah

DPRD Gelar Rapat Paripurna Penyerahan Raperda

Daerah

Komisi III DPRD Sinjai Dengar Pendapat Terkait Saluran Irigasi Induk Apareng III