Cerita Petugas Lab Covid Soppeng Saat Memeriksa Sampel Swab

Petugas Labkesda Soppeng saat melakukan uji spesimen Covid-19

 

Kebanggan Tersendiri Menjadi Garda Terdepan dalam Penanganan Covid-19

RAKYATSATU.COM, SOPPENG – Semenjak menjadi daerah mandiri dengan menghadirkan mesin polymerase chain reaction (PCR) yang berfungsi mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Petugas Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Soppeng menjadi salahsatu garda terdepan dalam menangani Coronavirus Desiase 2019 (Covid-19) di Soppeng, Kamis (17/12/2020).

 

Fatmawati, salahsatu petugas medis yang membagikan kisahnya kepada media saat memeriksa bahan pemeriskaan (Swab) pasien yang datang untuk memasuki proses pengujian sampel swab.

 

Selama bertugas sejak awal Mei 2020 lalu, dia bersama 22 rekan lainnya yang bertugas di Labkesda Soppeng, tentu mendapati kendala yang beragam, mulai dari sampel pasien tanpa identitas, hingga melakukan proses pengujian sampel berulang kali.

Petugas Labkesda Soppeng saat mengambil swab pasien

 

 

“Tentu ada kendala selama bertugas, seperti pengirim tidak memberi sampel identitas yang sama. Belum lagi dengan sampel yang banyak tentu akan memakan waktu yang lama. Dan Terjadi kontaminan sehingga pengerjaan perlu diulang,” kata Ibu Fate panggilan akrabnya.

 

Dia tidak memungkiri resiko untuk dia tertular. Namun sudah menjadi tugas kemanusiaan dan sudah dilengkapi APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai dengan SOP, ia percaya dirinya aman saat melakukan uji proses sampel pasien.

 

“Masing-masing memiliki tugas, tenaga teknis PCR sebanyak 7 orang, tenaga lab klinik 7 orang, kesling 2 orang dan manjemen 7 orang,” urainya.

 

Dia menceritakan saat melakukan proses pengujian sampel swab, dimana para petugas teknis termasuk dirinya melakukan Identifikasi sampel dan koding serta persiapan bahan dan alat yang disebut dengan Pra Analitik.

 

Kemudian memasuki proses sampel secara manual pada tahap extraksi. Ditahap ini disebut Analitik  yaitu untuk memurnikan Ribonucleic Acid (RNA) virus dan diubah menjadi DNA komplemen (cDNA) kemudian masuk ke proses Mixing.

 

“Analitik disini ialah dimana RNA tadi di mix dengan reagen yang mengandung gen target Covid-19, selanjutnya di masukkan ke mesin PCR dimana pada proses ini terjadi amplifikasi atau penggandaan materi genetik,” jelasnya.

 

Tahap berikutnya, lanjut Fate yakni Pasca Analitik, yaitu Proses pada mesin PCR telah selesai, selanjutnya dilakukan analisa hasil dan kesimpulan, memastikan hasil valid sebelum di keluarkan.

 

“Bila hasil belum valid dilakukan pengujian ulang, ini bisa disebabkan adanya inhibitor yang mengganggu proses amplifikasi,” terangnya.

 

Dalam melakukan uji proses sampel swab, kata dia, akan memakan waktu 6 hingga 7 jam untuk 92 sampel.

Petugas Labkesda Soppeng saat melakukan uji spesimen Covid-19

 

 

“Bila terjadi inhibisi bisa lebih lama karena harus dilakukan pengulangan. Kecuali sampel Cito dirunning sendiri dengan menunda sampel lain dulu, bisa 3 jam,” terangnya.

 

Menjadi salahsatu tim garda terdepan pencegahan Covid-19 di Kota Kalong sebutan lain Kabupaten Soppeng, suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan para Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) Kabupaten Soppeng.

 

“Alhamdulillah, Soppeng menjadi daerah mandiri dengan alat yang memadahi. Dan Labkesda Soppeng mendapat kepercayaan untuk menghandel 3 Kabupaten,” jelasnya.

 

“Terkhusus Tim PCR luar biasa mendapat kesempatan mendarmabaktikan ilmu pengetahuan yang di miliki. Tentunya tidak akan terjadi tanpa dukungan pemerintah. Suatu kebanggaan bahwa Pemda Soppeng menyediakan sarana dan fasilitas untuk mengembangkan potensi SDMnya, sehingga Labkesda Soppeng dapat berkembang dan dikenal,” sambungnya.

 

Mengenai waktu antara bertugas untuk orang banyak dan keluarga, dia beryukur memiliki dan berada dalam linkungan yang sabar, memahami dan mensupport pekerjaannya. “Sebagai ibu dan istri saya tidak punya waktu untuk bersama keluarga mensiasatinya dengan meningkatkan quality time bersama keluarga. Bahkan saat-saat ada sampel mendesak dan harus lembur tembus pagi, sesekali gantian anak dan suami menemani. saya di lab kerja sampel, mereka di ruang kantor menunggui,” ceritanya.

 

Dia berharap,dimasa new normal ini masyarakat semakin sadar, tetap menjaga diri dan keluarga dengan mematuhi protokol kesehatan, tetap tidak bosan menggunakan masker, ingat cuci tangan, sosial distancing dijaga, menghindari kerumunan. Bila tidak maka pandemi akan bertambah panjang dan tidak ada selesainya.

 

“Mari bersama-sama menjadi orang yang melindungi diri sendiri, keluarga dan teman terdekat dengan mematuhi protokol kesehatan,” imbaunya.

 

Sekedar diketahui, selain menjadi daerah mandiri dengan fasilitas PCR untuk penanganan Covid-19, Kabupaten Soppeng juga memiliki ruang isolasi sendiri dengan total 50 ruangan.