Bejo Indonesia Perkenalkan Teknologi Penanaman Bawang dari Biji ke Kelompok Tani di Soppeng

RAKYATSATU.COM, SOPPENG – Bejo Indonesia menggelar open day bawang merah biji yang merupakan ajang pelatihan dan diskusi mengenai penanaman bawang merah dari biji varietas Maserati F1.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Soppeng, Ir. H Lutfi Halide, Kapolsek Marioriwawo, Kepala Desa Marioriaja dan para petani dari Kelompok Tani Sero.

Wakil Bupati Soppeng, Ir. H. Lutfi Halide dalam sambutannya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya untuk Perusahaan Bejo Indonesia yang memperkenalkan teknologi penanaman bawang merah dengan biji.

Kata Lutfi Halide, masyarakat Soppeng sangat antusias menanam bawang merah, hanya saja terkendala dengan harga bibitnya yang dimana mencapai Rp50 juta per hektare.

Lanjutnya, dengan adanya teknologi biji ini, biaya pengeluaran bisa kurang hingga Rp15 juta. Hanya saja, kata dia, memang perlu teknologi untuk memperdalam lagi.

“Nantinya ada juga teknologi yang di perlihatkan Perusahaan Bejo untuk menanam dengan menggunakan alat tanah, tapi itu tidak semua jenis tanah bisa dilakukan karena dia akan melengket apalagi biji bawang merah ini sangat kecil sehingga kesulitan disitu,” ungkapnya.

“Mudah-mudahan kedepannya ada petani-petani milenial kita yang bisa berusaha dalam menjual bibit, bukan lagi benih yang dia jual,” tambahnya.

Hal ini tentu sangat menguntungkan satu sama lain. “Kita sudah hitung-hitung tadi, pendapatan dalam satu bulan itu bisa mencapai Rp50 juta. Olehnya itu, saya berharap Kelompok Tani Sero bisa menjadi sentra perkembangan bawang merah,” harapnya.

Sementara Country Manager Bejo Indonesia, Agung Pratama mengatakan teknologi yang kami kenalkan kepada masyarakat Soppeng adalah teknologi penanaman bawang dari biji. Teknologi ini diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih murah. Karena selama ini petani menggunakan bawang dari umbi.

“Harga umbi itu kan sangat fluktuatif dan itu sangat mahal,” ujarnya.

Katanya, dari usaha penanaman dari biji ini juga bisa memunculkan pengusaha baru, karena untuk petani yang tidak terbiasa untuk menyamai, mereka tinggal beli dari pengusaha penjualan bibitnya.

Hal inilah yang akan diusahakan untuk dikembangkan. Apalagi saat ini hasilnya jauh lebih produktif dari pada bawang umbi.

“Sekarang tinggal bagaimana petani bisa menerima teknologi ini untuk menambah produktivitas mereka kedepan,” terangnya.

Masih kata dia, saat ini pihaknya juga melakukan pendampingan ke para petani dalam menggunakan teknologi tersebut. Karena teknologi ini bukan hanya sekedar dijalankan begitu saja.

“Sesuai arahan pak Wakil Bupati kita akan kembangkan lebih serius lagi, mungkin tidak di Desa Marioriaja saja, tapi Desa lain juga akan kita kembangkan secara luas. Mudah-mudahan alternatif yang sangat produktif ini bisa menjadi tambahan pendapatan untuk petani, yang selama ini relatif sering menanam padi,” tandasnya.