Harta Kekayaan Kaswadi Naik 11,15 Persen Selama Pandemi

RAKYATSATU.COM, SOPPENG – Harta Kekayaan Bupati Soppeng, HA Kaswadi Razak selama pandemi Covid-19 atau setahun terakhir, mengalami peningkatan yakni sebesar 11,15 persen.

Hal itu berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) atau https://elhkpn.kpk.go.id/, pelaporan 31 Desember 2019-31 Desember 2020.

Berdasarkan laporan LHKPN 31 Desember 2019 di situs elhkpn.kpk.go.id, harta kekayaan Kaswadi Razak senilai Rp 11.361.487.222 di tahun 2019 dan menjadi Rp12.627.956.087 di tahun 2020.

Dari data LHKPN 2020, Kaswadi memiliki 30 aset tanah dan bangunan dengan nilai Rp9.585.200.000, 14 alat transportasi dan mesin senilai Rp1.546.189.040, harta bergerak lainnya Rp205.000.000, Kas dan Setara kas Rp840.836.222, serta harta lainnya Rp611.455.000

Untuk 30 Aset tanah dan bangunan, aset Kaswadi mengalami kenaikan sebesar 14,56 persen. Disusul Alat Transportasi dan Mesin jgua mengalami kenaikan sebesar 15,60 persen. Sementara Harta bergerak lainnya dan harta lainnya stagnan. Namun mengalami penurunan sebesar 19,11 persen pada Kas dan Setara kas milinya.

Dikutip Kompas.com, Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Pahala Nainggolan mengatakan, pandemi Covid-19 turut berdampak pada harta penyelenggara negara. Pahala menyebut, sebanyak 70,3% penyelenggara negara melaporkan hartanya bertambah selama pandemi. Lalu, 22,9% penyelenggara negara melaporkan penurunan harta. Serta, 6,8% lainnya tetap.

“Rata-rata bertambah Rp 1 miliar sebagian besar di tingkat kementerian,” ucap Pahala dalam Webinar LHKPN dipantau dari live streaming Youtube KPK, Selasa (7/9/2021) lalu.

Dia menerangkan, kenaikan harta penyelenggara karena beberapa hal. Diantaranya apresiasi nilai asset (karena kenaikan nilai pasar), penambahan asset (jual, beli, waris), penjualan asset dengan harga diatas harga perolehan, pelunasan pinjaman, dan adanya harta yang tidak dilaporkan pada pelaporan sebelumnya. Sementara penurunan harta diantaranya karena depresiasi nilai asset (karena nilai pasar turun/ada penyusutan asset), penjualan aset dengan harga di bawah harga perolehan. Lalu, pelepasan aset karena rusak atau dihibahkan, penambahan nilai utang.