I Tengke Dengan Keterbatasannya di Masa Sulit Pandemi

I Tengke Dengan Keterbatasannya di Masa Sulit Pandemi/ Foto : Abhiwardana

Buat Anyaman dari Daun Lontar Hingga Buat Kue dan Kebutuhan Tradisional

RAKYATSATU.COM , SOPPENG – Pandemi Coronavirus Desiase 2019 (Covid-19) masih berlanjut. Tanda-tanda ingin berakhirnya pun masih jauh, kedati Vaksin yang diharapkan menjadi senjata utama melawan virus ganas ini telah tiba di Indonesia.

Kurang lebih setahun dengan keadaan seperti ini, banyak sektor terdampak dan terpuruk. Hal itu tidak dipungkiri mulai dari Pemerintahan, Wisata, Ekonomi semuanya terdampak.

Di tengah pandemi dengan berbagai ketidakpastiannya, dunia usaha mulai merangkak naik dan tidak ingin berada ditempat itu saja.

I Tengke Dengan Keterbatasannya di Masa Sulit Pandemi/ Foto : Abhiwardana

Keinginan yang tinggi membuat tidak sedikit usaha-usaha baru bermunculan untuk mencoba peruntungan di masa serba sulit. Tapi tidak dipungkiri juga bahwa tidak sedikit pula tetap bertahan dengan usaha yang sudah lama digeluti.

Seperti I Tengke (65), seorang wanita penyandang disibilitas yang hidup sebatang kara, namun tidak patah semangat menjalani hidup sepeninggal sang suami tanpa dikaruniai anak.

I Tangke perempuan rentan yang sebelah kakinya tidak tumbuh dengan sempurna sedari dulu, bertahan hidup dengan hasil buah karya tangannya, yang dibuat di kediamannya yang sederhana.

Dari tanganya yang terlihat rapuh, warga Desa Lalabata Riaja, Kabupaten Soppeng ini mengandalkan hasil dari anyaman daun lontar. Sebuah keterampilan yang sudah mulai langka ditemui. Dari tangannya itu lahir satu demi satu kerajinan bakul, kipas, sapu lidi hingga hiasan telur maulid.

Selain anyaman, ia pun mahir membuat “beppa pute” atau kue putih. Penganan khas ini senantiasa menghiasi acara pernikahan mengisi bosara’ atau wadah di acara pernikahan.

“Setiap hari buat seperti ini, dan Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan rejeki oleh Allah,” kata I Tengke sembari tersenyum.

I Tengke menjajakan hasil karya tangannya di Pasar tradisional Soppeng/ Foto : Abhiwardana

Untuk mendapatkan hasil dari kerajinannya, ia meninggalkan rumahnya sejak dini hari untuk kepasar. Ia berjalan tertatih-taih dibantu tongkat menuju kendaraan bentor (Becak Motor).

Di pasar, I Tengke seolah tidak banyak mengejar untung. Ia sangat santai menjajakan dagangannya, sebab memiliki langganan tetap untuk kue putih. “Kalau untuk kue putih seperti ini, saya sudah punya langganan,” terangnya.

Berbeda dengan kerajinan anyaman yang hanya laris diwaktu-waktu tertentu. Untuk itu dia menambah dagangannya agar makin variatif, seperti menghadirkan peralatan acara dan kebutuhan tradisional lainnya, seperti dupa, kayu seccang (aju seppang), be’kkeng atau jimat yang biasa digunakan bayi yang baru lahir.

Dengan keterbasannya, tidak membuat dia untuk putus harapan dan mengucapkan syukur kepada sang pencipta. I tengke’ tidak pernah lupa bersyukur pada Tuhan yang kerap diisi dengan beribadah diantaranya membaca Al-Qur’an.

Netizen Report : Abhiwardana